Sabtu, 09 Juli 2011

Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warokhmah

Posted by sayyidus 07.37, under | 1 comment



Musim nikah (akeh buwuan) ini membuat saya pingin nulis tentang keluarga sakinah semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua khususnya teman teman yang lagi pengen dan bersiap-siap untuk menikah.

Untuk membentuk keluarga yg sakinah, mawaddah, dan warohmah itu kan tidak mudah dari situ Allah menguji hamba hambanya apakah bisa melewatinya atau tidak. Pasti di dalam sebuah keluarga itu terdapat masalah, ada anak menangis, anak susah di atur, orang tua memarahi anak, suami bertengkar dgn istri, masalah ekonomi, dan lain lain.

Sebaiknya melakukan introspeksi (muhasabah) terhadap diri kita, apakah kita masih konsisten (istiqomah) dalam memegang teguh rambu-rambu berikut agar tetap mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga ?
1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)

Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkap dalam Alqur’an (QS. Ar Rum:21), sehingga bernilai sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah-Nya (QS. An-Nur:32) yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits : ”Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi) pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul. Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih mengutamakan kriteria ad Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya (kecantikan/ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan (walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan pertolong-an kepada mereka yang mengambil langkah ini; “ Tiga golongan yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)

Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.

2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)

Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri-nya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya.

Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.

3. Sikap toleran (Tasamuh)

Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187), maka suami/isteri harus mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kelemahan/kekurangan yang ada.

Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/ kelemahan apapun yang ada pada suami merupakan kekurangan/kelemahan bagi isteri, begitu sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.

Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.

4. Komunikasi (Musyawarah)

Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, disamping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman.

Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian (empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.

Alqur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam QS.As-Shaaffaat:102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab; Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.

5. Sabar dan Syukur

Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14: ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga dimana sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi-halangi langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa pada jurang kehancuran rumah tangga.

Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran. Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang diluar kesang-gupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak berikut:“Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak keberkahan.

Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada suaminya.

Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan.

Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim:7).

Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk selalu memanjatkan do’a:

Ya Rabb kami karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik.

Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau Ridha-i.

Ya Rabb kami jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan shalat.

Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan, sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an (QS. Al-Furqon:74; QS. Ash-Shaafaat:100 ; QS.Al-Imran:38; QS. Maryam: 5-6; dan QS. Ibrahim:40). Pada intinya keturun-an yang diharapkan adalah keturunan yang sedap dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih), diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat).

Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian, dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.

6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)

Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)

Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal di rumah.

Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal, akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.

Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af, karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan. Ingatlah, bila karena sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/suami, segeralah minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.

7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)

Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28. “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”. Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).

Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam segenap tindakannya (muraqobatullah). Perasaan tersebut harus dilatih dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a, ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga, dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaaq: 2-3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”

Wujud indahnya keberkahan keluarga

Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang (muthma’innah), fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan.

Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1) Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman, dan (4) Tetangga yang baik.

Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar, silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai cobaan.

Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat, dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:

“Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS, Az-Zukhruf:70)

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan (pertemukan) anak cucu mereka dengan mereka (di syurga), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thuur:21).

Inilah keberkahan yang hakiki.

KYAI TERKECOH (JARKONI)

Posted by sayyidus 07.19, under | No comments

 
 
"Syetan masuk ke dalam jiwa seseorang melewati pintu yang paling disukai dan dicintai oleh jiwa tersebut. Karena, dengan cara tersebut setan dapat memenuhi keinginan dan kesenangan jiwa tersebut sehingga setan mendapatkan sambutan dari jiwa dan hawa nafsu itu sendiri "

Malam itu malam jum’at kliwon. Penduduk desa beramai-ramai Mendatangi sebuah pohon besar yang tumbuh ditepian sungai. Laki-laki, perempuan, tua, muda datang membawa barang-barang yang akan digunakan untuk sesajen. Ada nasi tumpeng dengan ayam panggang, rook, kembang setaman, ayam hitam mulus, kemenyan dan lain-lain.
       SYETAN telah merasuk  ke dalam jiwa dan membelenggu hati mereka dengan keyakinan bahwa pohon besar itu dihuni oleh makhluk halus yang bisa mengabulkan semua keinginan mereka. Sehingga mereka datang memuja-muja mahluk penunggu pohon seraya menyebutkan keinginannya. Ada yang ingin kaya, ada yang ingin gampang jodoh, ada yang ingin laris daganggannya, bahkan ada yang ingin kebal senjata. Ada juga yang ingin menanyakan berapa nomor undian yang keluar minggu ini.
       Iblis semakin bersorak gembira karena pengikutnya semakin lama semakin bertambah banyak. Lain halnya dengan pak Kyai Jarkoni, seorang tokoh agama didesa itu yang semakin jengah dengan kemusyrikan dan dilihatnya setiap hari.
       “Kasihan. Mereka tidak tahu bahwa iblis telah memperdaya mereka. Mereka akan dijadikan teman iblis di dalam neraka. Aku tidak boleh tinggal diam. Satu-satunya cara adalah ... menebang pohon itu!”
       Selesai sholat subuh Kyai Jarkoni melangkah mantap dengan membawa kapak besar dipundaknya menuju pohon besar itu berada. Iblis yang sengaja tinggal di pohon besar itu tiba-tiba terperajat. Matanya silau dengan kilauan logam kapak Kyai Jarkoni yang ditimpa sinar matahari pagi.
       “Hah?!! Ada orang bawa kapak mendatangi pohonku. Gawat!  Hawanya lain. Dia orang berilmu .... aku harus waspada!”
       Atas kehendak Allah, Kyai Jarkoni memiliki kemampuan melihat dan berbicara dengan mahluk halus. Sehingga dengan mudah ia berkomunikasi dengan penunggu pohon itu.
“Hai Iblis Pergi kau! Aku akan menebang pohon ini karena telah banyak menyesatkan manusia”
       “Aku tidak akan membiarkan engkau menenang pohon ini!”
       “Tidak peduli! Aku akan menebangnya!”
       Tiba-tiba iblis mencekik leher Kyai Jarkoni. Tak mau kalah, Kyai Jarkoni memegangi tanduk iblis itu. Perkelahian tidak bisa dihindarkan. Keduanya saling bergulat, saling banting. Cukup lama keduanya berkelahi sampai akhirnya Kyai Jarkoni membanting iblis hingga tersungkur ke tanah. Dadanya diinjak. Iblis tak berkutik.
       “Baiklah ! aku kalah. Aku tidak menghalangimu lagi menebang pohon ini”
       Kyai Jarkoni melepas iblis dan membiarkannya dia pergi, namun ia merasa sangat lelah. Tenaganya terkuras habis dalam perkelahian tadi. Jangankan menebang pohon, mengayunkan kapakpun rasanya sudah tidak kuat lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang untuk istirahat.Ia berharap esok hari dapat menebang pohon dengan kondisi yang segar.
       Keesokan harinya Kyai Jarkoni kembali memikul kapak dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Namun tak disangka-sangka iblis kembali datang menghalangi sehingga terjadilah perkelahian yang lebih seru dari sebelumnya. Lagi-lagi iblis dibuat bertekuk lutut di kaki Kyai Jarkoni dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Karena kehabisan tenaga, Kyai Jarkoni tidak mampu menebang pohon saat itu. Ia kembali pulang beristirahat untuk memulihkan tenaganya. Ia akan menebang pohon itu esoknya.
       Pagi-pagi Kyai Jarkoni kembali memangkul kapak. Dari kejauhan ia kembali melihat iblis sedang berdiri bersandar dipohon. Raut mukanya kali ini tidak beringas seperti dua hari sebelumnya. Iblis yakin bahwa tidak mungkin bisa mengalahkan manusia yang kuat aqidahnya dengan cara bertarung fisik. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan tipu daya’. Dengan lemah lembut iblis berkata,
       “Wahai  Kyai Jarkoni. Tahukah kau mengapa aku mencegahmu untuk menebang pohon itu? Aku kawatir dan kasihan padamu. Walaupun pohon itu sudah ditebang, belum tentu mereka akan sadar. Bahkan mereka akan membencimu dan mencari pohon lain untuk disembah. Sia-sia kan usahamu? Nah, karena kau telah mengalahkan aku, sekarang aku ingin membantumu memberantas kemusyrikan di desa ini. Sementara jangan tebang dulu pohon itu. Aku akan memberimu uang satu juta setiap hari. Dengan uang itu hidupmu akan tercukupi. Kamu juga bisa membagi-bagikan uang itu kepada fakir miskin. Kamu bisa membangun masjid yang indah sehingga orang-orang simpati kepadamu dan kamu bisa lebih mudah mengajak mereka kembali beribadah kepada Allah. Bukankah tujuanmu mengajak sebanyak-banyaknya orang beribadah?”
       Kyai Jarkoni merasa apa yang telah diucapkan iblis itu masuk akal. Tipu daya iblis telah merasuk ke dalam benaknya. Kyai Jarkoni berharap memerangi kemusyrikan dengan cara persuasif akan membuahkan hasil daripada dengan cara yang frontal.
       “Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang yang kau janjikan itu? Apakah ucapanmu bisa dipercaya?”
       “Lihat saja besok pagi di bawah bantalmu. Kalau tidak ada kau boleh menebang pohon ini!”
       “Baiklah. Tapi awas, kalau ingkar, kau tidak akan bisa menghalangiku menebang pohon ini”
       Kyai Jarkoni pulang kerumahnya sambil berangan-angan bahwa besok pagi ia akan mendapatkan uang satu juta di bawah bantal. Keesokan paginya, dengan jantung berdebar Kyai Jarkoni membuka bantalnya....
       “Haah? Uang seratus ribuan! Sepuluh lembar!”
       Walau begitu, Kyai Jarkoni masih ragu apakah uang itu asli atau palsu. Ketika ia mencoba membelanjakan uang tersebut ternyata asli! Para pedangang menerima pembayaran uang itu.
       “Alhamdulillah, aku akan membagi-bagikan kepada fakir miskin. Bukankah besok aku dapat uang lagi”
       Kyai Jarkoni mulai sibuk menghitung uang yang ia terima satu juta setiap hari. Rencana-rencana pun mulai ia susun.
“Tiga hari tiga juta. Sebulan, 30 juta. Aku akan membeli handphone, mobil, membangun rumah dan membangun masjid terindah di desa ini”
Menjelang tidur angan-angan Kyai Jarkoni berkelana. Ia membayangkan masjid yang dibanngunnya dipenuhi orang-orang untuk beribadah. Mereka berebut menyalami dan berfoto dengannya. Mengelu-elukan Kyai kaya yang dermawan. Ia tertidur pulas dengan senyum tersungging. Sementara iblis menari-nari karena telah berhasil menjebak Kyai Jarkoni.
Di suatu pagi, Kyai Jarkoni terkejut manakala dibalik bantalnya tidak ada lagi uang sama sekali.
       “Mana uang itu? Betul-betul tidak bisa dipercaya. Dasar iblis! Gagal rencanaku membangun masjid, kutebang saja pohon itu biar tahu rasa!”
Dengan  muka merah padam menahan amarah, Kyai Jarkoni bergegas menuju pohon besar itu.
       “Kali ini tidak ada kompromi!”
       “Mau kemana pak kyai?” Kyai Jarkoni terkejut mendengar sapaan iblis.
       “Aku mau menebang pohonmu. Minggir!”
       “Tak akan kubiarkan ! Ayo hadapi aku!”
       Perkelahian antara Kyai Jarkoni dan Iblis tidak terelakan lagi. Keduanya sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalan. Kali ini Kyai Jarkoni kewalahan menahan serangan-serangan iblis. Ia pun tersungkur, bertekut lutut dibawah kaki iblis. Ia berteriak-teriak minta ampun, tetapi iblis terus menginjak-injak dadanya. Dengan congkak iblis berkata, Hai manusia sombong! Mana kekuatanmu?”
       “Hai iblis! Kenapa kau bisa mengalahkan aku?”
       “Hahaha! Kali ini kau ingin menebang pohon gara-gara tidak ada uang di bawah bantalmu. Ketika kau marah membela hukum atau aqidah Tuhanmu, maka kau berada dalam genggaman Allah, sehingga aku tidak bisa mengalahkanmu.
       Tapi ketika kau marah karena mengikuti hawa nafsu demi kepentingan dirimu sendiri, maka kau lepas dari genggaman Allah. Kau bagai biri-biri yang tak peduli ditinggalkan gembalanya karena asyik terpikat menikmati rumput yang hijau. Maka leluasalah aku mengalahkanmu. Pergi sana! Jangan ganggu pohonku lagi!”
       Maka, dengan gontai Kyai Jarkoni pulang sambil menyesali kelengahannya sehingga begitu mudah ia terperangkap oleh tipu daya iblis.
       “Ooh.. bodohnya aku. Sungguh licik dan halus tipu daya iblis. Kupikir kalau sudah menjadi kyai tidak akan mudah terkecoh. Aku telah takabur sehingga lengah mau bekerjasama dengan iblis. Pelajaran berharga untukku. Aku harus selalu waspada dan tak akan berhubungan dengan iblis dalam hal apapun...”Dasar Kyai Jarkoni, bisa mengajar tapi tidak bisa nglakoni.....

Rabu, 22 Juni 2011

Libur sekolah telah tiba

Posted by sayyidus 21.39, under | No comments

Liburan telah datang, hampir semua orang menyambutnya dengan riang membayangkan bebas dari segala rutinitas selama ini. Bagi seorang muslim, nikmat waktu luang ini merupakan hal yang patut disyukuri dan tidak selayaknya digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syari’ah. Berikut ini sebagian contoh liburan yang banyak dilakukan orang namun tidak baik untuk kita sebagai seorang muslim, khususnya wanita mukminah.
  1. Banyak tidur di siang hari
Pada hari-hari sekolah selesai shalat fajar kita sebagai ummahat sibuk menyiapkan keperluan anak-anak ke sekolah, keinginan untuk tidur ditahan agar mereka tidak telat berangkat. Saat liburan seperti ini, selesai shalat fajar banyak dari kita meneruskan tidurnya kembali  dan baru bangun menjelang dzuhur. Padahal banyak berkah yang akan kita dapat saat bangun pagi hari
Dari Shokhar Al Ghomidi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari
  1. Jalan-jalan di mal
Bagi sebagian ummahat, mal merupakan tempat favorit untuk dikunjungi. Walaupun tidak ada anggaran untuk belanja namun dengan melihat-lihat saja sambil membandingan harga barang mal satu dengan yang lainnya sudah memberikan kepuasan tersendiri sehingga terkadang tak terasa berjam-jam kita berada di dalamnya tanpa merasa lelah.
Dari Abi Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Tempat yang paling dicintai Allah di suatu negeri adalah masjidnya, dan tempat yang  paling dibenci Allah adalah pasar”.
Bahkan tak jarang kita tergiur untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan berakibat mubazir (pemboros).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan” (Al Israa’: 27)
  1. Menghabiskan waktu dengan  ghibah, namimah
Libur sekolah merupakan saat yang tepat untuk berkunjung ke tempat teman karena pada hari-hari sekolah malam harinya kita biasa sibuk membimbing anak-anak mengerjakan PR. Namun yang harus diwaspadai saat kita berkunjung adalah jangan sampai obrolan kita dengan nyonya rumah jatuh kepada ghibah (bergunjing) dan namimah (mengadu domba).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : “…dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?” (Al Hujuraat : 12)
4. Bergadang di malam hari
Saat liburan, kita memberikan kebebasan untuk anak-anak untuk tidur agak malam karena  kita tidak perlu khawatir anak-anak akan bangun kesiangan, mau tidak mau kitapun ikut bergadang bersama mereka, dan ini sering menyebabkan shalat fajar jadi telat apalagi musim panas ini waktu fajar terasa sangat cepat..
Dari Abi Barzah Al Aslami radhiyallahu anhu, ia berkata “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyukai untuk mengakhirkan shalat isya (berjama’ah),  membenci tidur sebelumnya dan bercengkrama sesudahhnya”
5. Menonton TV terus menerus
Mengabiskan liburan dengan menonton TV tanpa henti menjadi pilihan bagi sebagian orang padahal seharusnya kita takut untuk melakukannya jika mengingat firman Allah subhanahu wa ta'ala : “Sesungguhnya pendengaraan, penglihatan, dan hati semuanya akan ditanya (diminta pertanggungjawabannya)”. (Al Israa : 36)

Minggu, 19 Juni 2011

Lirik Sholawat Sholatun (Habib Syech)

Posted by sayyidus 01.42, under | 2 comments

صَلاَةٌ بِالسَّلاَم

صَلاَةٌ بِالسَّلاَمِ المُبِينِ     لِنُقطَةِ التَّعيِينِ يَاغَرَامِى

                                 Sholatum bissalamil mubiini           linuqtotitta’yiini ya ghoromi

نَبِيٌّ كَانَ الصلَ التَّكوِينِ     مِن عَهدِ كُن فَيَكُون يَاغَرَامِي

                              Nabiyyun kana ashlattakwiini            min ‘ahdikun fayakun ya ghoromi

اَيَّامَن جَاءَنَا حَقًّا نَذِيرِ     مُغِيثًامُسبِلا سُبُلَ الرَّشَادِ

             Ayyaman ja ana haqqon nadziri               mughiitsam musbilan subularrosyaadi

رَسُولُ اللهِ يَاضَاوِي الجَبِينِ     وَيَامَن جَاءَ بِالحَقِّ المُبِينِ

                             Rasulullahiya dhowil jabiini                 wa ya man ja a bil haqqil mubiini

صَلاَةُ لَم تَزَل تُتلى عَلَيكَ     كَمِعطَارِ النِّسِيمِ تُهدى الَيك

                                 sholatullamtazal tutla alaika            kami’thorinnasiimi tuhda ilaika


dan download

Rabu, 01 Juni 2011

Sambut bulan Rajab

Posted by sayyidus 00.46, under | 2 comments

Saat ini kita hampir memasuki bulan Rajab yang menandakan dua bulan ke depan akan tiba bulan suci Ramadhan 1432 H. Berarti aura bulan Ramadhan itu sudah demikian dekatnya menyapa diri kita. Ini sekedar mengingatkan saja. Sebagai seorang muslim sejati dan merindukan kebaikan, pasti akan selalu memantau saat-saat di mana kebaikan kita akan meningkat dan pahala ketaatan kepada Allah itu memanen pahala yang besar.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang doa yang selalu dipanjatkan rosulullah, mari kita simak sabda junjungan tercinta berikut :
 
اللهم بارك لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan."(HR. Thabrani dan Baihaqi)

Ramadhan adalah penghulu semua bulan Hijriah. Setiap tahun Ramadhan datang menyapa dan setelah itu pergi lagi. Dan setiap di tinggal itu pula setiap muslim yang rindu  kebaikan akan meresa ada yang kurang dengan apa yang dikerjakan selama bulan penuh rahmat dan ampunan itu. Keutamaan begitu banyak dan memang tidak mudah digapai seluruhnya oleh setiap muslim kecuali dengan susah payah dan kebersihan hati serta keikhlasan jiwa. Tentunya bagi siapa saja yang mengaku sebagai seorang muslim sejati mesti merindukan dengan perasaan suka cita akan datangnya bulan suci ini dan tidak akan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Ramadhan. Sebagaimana hadist nabi :

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ


Untuk mengoptimalkan saat-saat fenomenal bersama Sang Kekasih itulah, hendaknya kita mempersiapkan segala-galanya dengan harapan semua fadhilah yang ada di dalamnya bisa kita dapatkan secara menyeluruh. Oleh karena itu, Rasulullah mengajak kita, umatnya untuk melakukan warming up di dua bulan yang juga tidak kalah pentingnya, yakni bulan Rajab dan Sya'ban.

Nah, bagi kita muslim yang rindu kebaikan, pahala, surga dan dilanjutkan dengan panen pahala pasti sudah memulai berbagai training-training amalan sholeh. Dan itulah nanti yang akan menjadi keberkahan tersendiri bagi kita.

Bentuknya pun bermacam-macam. Seperti misalnya, membayar 'hutang' shaum bagi yang pernah uzur meninggalkan shaumnya pada Ramadhan yang lalu, mempersiapkan tilawah al-Qur'annya. Sudah barang tentu setiap muslim yang merindukan taqorrub di Ramadhan kelak, mulai sekarang sudah mempersiapkan tilawah hariannya. Tahsin, Tafhim dan Tadabburpun tidak luput dari perhatiannya. Ini sangat penting. Mana mungkin kita meneriakkan hadits di atas lantas diri kita kurang memberikan perhatian kepada al-Qur'an yang merupakan amalan utama di bulan mulia itu?!

Amalan sholeh lain yang bisa kita persiapkan adalah puasa itu sendiri. Seperti puasa  hari-hari putih (3 hari setiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 H), puasa Senin-Kamis, puasa nabi Daud (puasa selingan / satu hari puasa dan satu hari tidak), lalu berlatih infak, shodaqoh, zakat di bulan Rajab dan Sya'ban

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tags

Blog Archive

Arsip Blog